Dari
pertumbuhan ilmu sejak zaman Yunani Kuno sampai abad modern ini tampak nyata
bahwa ilmu merupakan aktivitas manusia, suatu kegiatan melakukan sesuatu yang
dilaksanakan orang atau lebih tepat suatu rangkaian aktivitas yang membentuk
suatu proses. Seorang yang melakukan rangkaian aktivitas yang disebut ilmu itu
kini lazim dinamakan ilmuwan (scientist ).
Kata ilmuwan
sekarang tentu bukanlah hal yang asing. Secara sederhana ia diberi makna ahli
atau pakar. Dalam kamus Indonesia, kata ilmuwan bermakna orang yang ahli atau
banyak pengetahuannya mengenai suatu ilmu, atau orang yang berkecimpung dalam
ilmu pengetahuan serta orang yang bekerja dan mendalami ilmu pengetahuan dengan
tekun dan sungguh-sungguh.
Ilmuwan
merupakan profesi, gelar atau capaian professional yang diberikan masyarakat
kepada seorang yang mengabdikan dirinya pada kegiatan penelitian ilmiah dalam
rangka mendapatkan pemahaman yang lebih komprehensif tentang alam semesta,
termasuk fenomena fisika, matematis dan kehidupan sosial.
Istilah
ilmuwan dipakai untuk menyebut aktifitas seseorang untuk menggali permasalahan
ilmuwan secara menyeluruh dan mengeluarkan gagasan dalam bentuk ilmiah sebagai
bukti hasil kerja mereka kepada dunia dan juga untuk berbagi hasil penyelidikan
tersebut kepada masyarakat awam, karena mereka merasa bahwa tanggung jawab itu
ada dipundaknya.
Ilmuwan
memiliki beberapa ciri yang ditunjukkan oleh cara berfikir yang dianut serta
dalam perilaku seorang ilmuwan. Mereka memilih bidang keilmuan sebagai profesi.
Untuk itu yang bersangkutan harus tunduk dibawah wibawa ilmu. Karena ilmu
merupakan alat yang paling mampu dalam mencari dan mengetahui kebenaran.
Seorang ilmuwan tampaknya tidak cukup hanya memiliki daya kritis tinggi atau
pun pragmatis, kejujuran, jiwa terbuka dan tekad besar dalam mencari atau
menunjukkan kebenaran pada akhirnya, netral, tetapi lebih dari semua itu ialah
penghayatan terhadap etika serta moral ilmu dimana manusia dan kehidupan itu
harus menjadi pilihan juga sekaligus junjungan utama.
Tanggung jawab
ilmuwan
Ilmu menggahasilkan teknologi
yang diperagakan masyarakat.penarapan ilmu dimasyarakat juga menjadi kebekarhan
bagi masyarakat dan dapat mengubah beradaban bagi manusia, tetapi juga bisa
menimbulkan bencana bagi manusia apabila menyalagunakan hasil karya para
ilmuwan. Disinilah pemanfaatkan dan teknologi perlu diperhatikan
sebaik-baiknya.
Dihadapkan masalah moral dan akses ilmu
dan teknologi yang bersifat merusak, maka para ilmuwan bias dinobatkan sebagai
dua golongan pendapat, Ilmu harus bersifat netral terhadap nilai-nilai baik
secra ontologis maupun maupun aksiologi. Dalam hal ini ilmuwan hanya bisa
menemukan penemuan terserah mau dipakai oleh para pengguna yang bersifat positiv
maupun negative ilmu itu sifatnya netral.
1.
Golongan yang pertama ini
ingin melanjutkan tradisi kenetralan sebuah ilmu seperti pada waktu era
Golileo, dan golongan yang berpendapat netralisasi ilmu hanyalah terbatas pada
metafisika keilmuwan, sedangkan penggunaan harus berdasarkan nilai-nilai moral.
2.
Golongan yang kedua ini
mendasarkan pendapatnya pada tiga hal yaitu
Ilmu secara factual digunakan secara destraktiv oleh
manusia, yang dibuktikan adanya perang dunia yang menggunakan teknologi
keilmuwan yaitu terjadi Bom atom. Yang mengahabiskan kota Nagasaki dan hirosima
pada saat itu.
Ilmuwan
sebagai manusia yang diberi kemampuan merenung dan menggunakan pikirannya untuk
bernalar. Kemampuan berpikir dan bernalar itu pula yang membuat kita sebagai
manusia menemukan berbagai pengetahuan baru. Pengetahuan baru itu kemudian
digunakan untuk mendapatkan manfaat yang sebesar-besarnya dari lingkungan alam
yang tersedia di sekitar kita. Oleh karena itu tanggung jawab ilmuwan terhadap
masa depan kehidupan manusia diantaranya adalah :
a.
Ilmu adalah berkembang
secara pesat dan makin esoteric sihingga
para ilmuwan mengetahui akses-akses yang mungkin terjadi bila terjadi
penyalagunaan hasil karya para ilmuwan.
b.
Ilmu telah berkembang
sedemikian rupa dimana terdapat kemungkinan bahwa ilmu dapat mengubah manusia
dan kemanusiaan yang paling hakiki seperti pada kasus revolusi genetika dan
teknik pembuatan social.
Tanggung Jawab
Profesional terhadap dirinya sendiri, sesama ilmuwan dan masyarakat, yaitu
menjamin kebenaran dan keterandalan pernyataan-pernyataan ilmiah yang dibuatnya
secara formal. Agar semua pernyataan ilmiah yang dibuatnya selalu benar dan
memberikan tanggapan apabila ia merasa ada pernyataan ada pernyataan ilmiah
yang dibuat ilmuwan lain yang tidak benar.
Tanggung Jawab
Sosial, yaitu tanggung jawab ilmuwan terhadap masyarakat yang menyangkut asas
moral dan etika. Pengalaman dua perang dunia I (terkenal dengan perang kuman)
dan II (terkenal dengan bom atom) telah membuktikan bahwa ilmu digunakan untuk
tujuan-tujuan yang destruktif.
Sikap Politis Formal Ilmuwan
Jika ilmuwan
mempunyai rasa tanggung jawab moral dan sosial yang formal, maka konsekuensinya
ilmuwan harus mempunyai sikap politik formal. Sebab sikap politik formal
merupakan konsisten dengan asas moral keilmuan serta merupakan
pengejawantahan/implementasi dari tanggung jawab sosial dalam mengambil
keputusan politis, dimana keputusan ini bersifat mengikat (authorative).
Demi pertanggungan jawaban
ilmuwan terhadap masa depan umat manusia, semua dampak negatif sains dan
teknologi terus ditangani secara bersama-sama, bukan saja oleh masyarakat
ilmuwan dunia, melainkan juga oleh pemerintah semua negara, berlandaskan suatu
pandangan bahwa manusia di bumi ini mempunyai tugas untuk mengelolanya dengan
sebaik-baiknya. Maka dari itu manusia juga harus melakukan hal-hal sMengadakan
kerjasama dengan ilmuwan dan ahli teknologi berbagai negara dalam menerapkan
pengetahuannya demi kepentingan seluruh umat manusia. Perlunya pembangunan yang
berorientasi masa depan dan wawasan lingkungan.
Ilmu merupakan
hasil karya seseorang yang akan dikaji dan dikomunikasikan kepada manusia
secara terbuka. Jika hasil karya itu memenuhi syarat sebagai seorang ilmuwan
maka ia diterimah dengan terbuka sebagai bagian kumpulan ilmu pengetahuan dan
digunakan oleh masyarakat. Dengan kata lain penciptaan ilmu dengan individu
tapi secara komunikasi dan penggunaan ilmu karus harus bersifat social. Peranan
individulah yang menonjol dalam kemajuan ilmu, yang dapat saja mengubah
wajah peradaban.
Ilplikasi
penting dalam tanggung jawab social seoarang ilmuwan , setiap pencarian dan
penemuan kebenaran secara ilmiah harus disertai dengan landasan etisyang kukuh.
Menurut SuriSumantri (1984), proses
pencarian dan penemuan kebenaran ilmiah yang dilandasi etika, merupakan
katagori moral yang menjadi dasar sikap etis seoarang ilmuwan. Ilmuwan bukan
berfungsi sebagai analisis materi kebenaran tersebut tetapi harus juga menjadi
prototipe moral yang baik.
Tanggung jawab ilmuwan tidaklah ringan . dpatkah
seorang ilmuwan biasa memikul tanggung jawab sedemikian itu, jika batas moral
yang berlaku tidak universal . hal etis, yang menjadi landasan utama tegaknya
tanggung jawab moral para ilmuwan, memang tidak mempunyai sifat umum dan
universal. Maksutnya etika tidak dapat memberikan aturan yang universal yang
konkret untuk setiap masa, kebudayaan,dan situasi.
Kaum ilmuwan
tidak boleh picik mengganggap ilmu dan teknologi adalah segala-galanya masih
banyak sendi-sendi lain yang menyangga peradapan manusia yang baik. Demikian
masih dpat terdapat kebenaran-kebenaran lain kebernaran ilmuwan yang
melengakapi harkat kemanusiaan yang hakiki
jika kaum ilmuwan konsekuen dengan pandangan hidupnya, baik secara intlektual
maupun secara moral maka salah satu penyanggah masyarakat modern ini, ilmu
pengetahuan, akan berdiri dengan kukuh. Berdirinya pilar penyangga keilmuan ini
merupakan tanggung jawan social kaum ilmuwan ( suryasumantri, 1984)
B. Ilmu bebas nilai atau tidak bebas nilai.
Rasioamal ilmu terjadi sejak
rene Descartes bersikap sepkeptis sebagai metode yang meragukan segala sesuatu,
kecuali dirinya yang sedang ragu-ragu. Sikap ini masih berlanjut pada masa
aufklarung, suatu era yang merupakan usaha manusia untuk mencapai pemahaman
rasional tentang dirinya dan alam.
Persoalanya ilmu berkembang
dengan pesat apakah bebas nilai atau justru tidak bebas nilai. Bebas nilai yang
dimaksut Josep Situmorang (1996) bebas nilai artinya tuntutan setiap kegiatan
ilmiah atas didasarkan pada hakekat ilmu pengetahuan itu sendiri. Ilmu
pengetahuan menolak campur tangan factor eksternal yang tidak secara hakiki
menentukan ilmu pengethuan itu sendiri.
Minimal sebagai tiga factor sebagai indicator bahwa
ilmu pengetahuan itu bebas nilai, yaitu
1. ilmu harus bebas dari factor eksternal seperti factor politis,
ideologis, agama, budaya, dan unsure kemasyarakatan lainya .
2. perlunya kebebasan ilmiah, yang mendorong terjadinya otonomi
ilmu pengaetahuan. Kebebasan itu menyangkut kemungkinan untuk menentukan diri
sendiri.
3. Penelitian ilmiah tidak luput dari pertimbangan dari etis (yang
sering dituding menghambat kemajuan ilmu), karena nilai etis itu sendiri
bersifat universal.
Sosiolog,
Weber, bahwa ilmu social menyatakan harus bebas nilai, tetapi ia juga
mengatakan ilmu-ilmu social harus menjadi nilai yang relevan. Weber tidak yakin
bahwa para ilmuan social melakukan aktivitasnya seperti mengejar atau menulis
bidang ilmu social itu, mereka tidak terpengaruh oleh kepentingan tertentu.
Nilai-nilai itu harus diimplikasikan kedalam bagian-bagian praktis ilmu social
jika praktik itu mengandung tujuan atau rasional. Tanpa keinginan melayani
kepentintgan orang, budaya, maka ilmu social tidak beralasan untuk tidak
diajarkan. Suatu sikap moral yang sedemikian itu tidak mempunyai hubungan
objektivitas ilmiah (Rizal Mutansyir dan Misnal Minir 2001)
Tokoh lain
habermas sebagaimana yang ditulis Rizal Mustasir (2001)berpendirian teori
sebagai produk ilmiah tidak bebas nilai. Pendirian ini diwarisi Hebermas dari
pandangan Huseri yang melihat fakta dari objek alam diperlukan ilmu pengetahuan
sebagai kenyataan yang sudah jadi. Fakta atau objek itu sebenarnya sudah
tersusun secara sepontan dan primodial dalam pengalaman sehari-hari, dalam libenswelt atau dunia sebagaimana
dihayati. Setiap ilmu pengetahuan mengambil dari libenswelt itu sejumlah fakta sebagai fakta yang kemudian
diilmiakan berdasarkan kepentingan praktis.
Habermas
menegaskan lebih lanjut bahwa ilmu pengatahuan alam terbentuk berdasarkan
kepentingan teknis. Ilmu pengatahuan alam tidaklah netral, karena isinya tidak
lepas sama sekali dari kepentingan praktis. Ilmu sejarah dan hermeneutika juga
ditentukan oleh kepentingan praktis kendati dengan cara yang berbeda. Kegiatan
teoritis yangmelibatkan pola subjek selalu mengandung kepentingan tertentu.
Kepentingan itu bekerja pada tiga bindang, yaitu pekerjaan. bahasa , dan
otoritas. Pekerjaan merupakan kepentingan ilmu sejarah dan hermeneutika,
sedangkan otoritas merupakan kepentingan ilmu social.
C. Moralitas Ilmu Pengetahuan.
Manusia sebagai manipulator dan
articulator dalam mengambil manfaat dalam ilmu pengetahuan. Dalam psigkologi,
dikenal konsep diri dan freud menyebut sebagai “id”, “ego” dan “super ego” ,
“id” adalah batgian kepribadian yang dorongan biologi (hawa nafsu dalam agama )
dan hasrat-hasrat yang mengandung dua insting: libido (konstruktif) dan thanatos
(destruktif dan agresif). “Ego” penyelaras antara “Id” dan realitas dunia
luar. “super ego” adalah polisi kepribadian yang mewakili ideal, hati nurani
(jalaludin Rahmat, 1989). Dalam agama ada sisi destruktif manusia, yaitu sisi
angkara murka (hawa nafsu).
Ketika manusia
memanfaatkan ilmu pengetahuan untuk tujuan praktis, mereka dapat saja hanya
mefungsikan “id” nya, seingga dapat dipastikan bahwa manfaat pengetahuan
diaarahkan untuk hal-hal yang destruktif. Misalnya dalam pertarungan antara id
dan ego, dimana ego kalah sementara superego tidak berfungsi optimal, maka
tentu atau juga nafsu angkara murka yang mengendalikan tidak manusia mejatuhkan
pilihan dalam memanfaatkan ilmu pengetahuan
amatlah nihil kebaikan yang diperoleh manusia,atau malah mungkin
kehancuran. Kisah dua kali perang dunia, kerusakan lingkungan, penipisan
lapisan ozon, adalah pilihan “id” dari kepribadian manusia yang mengalahkan
“ego” maupun “super ego”nya.
Etika adalah
pembahasan mengenai baik, buruk, semestinya, benar, dan salah. Yang paling
menonjol tentang baik dan kuwajiban . keduanya bertalian denga hati nurani.
Bernaung dibahwa filasafat moral (Herman Soerwardi 1999). Etika merupakan
tatanan konsep yang melahirkan kuwajiban itu, dengan argument bahwa sesuatu
tidak dijalankan berarti akan mendatangkan bencana atau keburukan bagi manusia.
Oleh karena itu, etika adalah seperangkat kewajiban tentang kebaikan yang
melaksanakanya tidak ditunjuk.
Exekutornya menjadi jelas ketika sang subjek berhadap opsi baik atau
buruk yang baik itulah kuwajiban executor dalam kehidupan ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar