Jumat, 03 Mei 2013

Moralitas Ilmu Pengetahuan



Definisi dari Ilmuwan
Dari pertumbuhan ilmu sejak zaman Yunani Kuno sampai abad modern ini tampak nyata bahwa ilmu merupakan aktivitas manusia, suatu kegiatan melakukan sesuatu yang dilaksanakan orang atau lebih tepat suatu rangkaian aktivitas yang membentuk suatu proses. Seorang yang melakukan rangkaian aktivitas yang disebut ilmu itu kini lazim dinamakan ilmuwan (scientist ).

Kata ilmuwan sekarang tentu bukanlah hal yang asing. Secara sederhana ia diberi makna ahli atau pakar. Dalam kamus Indonesia, kata ilmuwan bermakna orang yang ahli atau banyak pengetahuannya mengenai suatu ilmu, atau orang yang berkecimpung dalam ilmu pengetahuan serta orang yang bekerja dan mendalami ilmu pengetahuan dengan tekun dan sungguh-sungguh.
Ilmuwan merupakan profesi, gelar atau capaian professional yang diberikan masyarakat kepada seorang yang mengabdikan dirinya pada kegiatan penelitian ilmiah dalam rangka mendapatkan pemahaman yang lebih komprehensif tentang alam semesta, termasuk fenomena fisika, matematis dan kehidupan sosial.
Istilah ilmuwan dipakai untuk menyebut aktifitas seseorang untuk menggali permasalahan ilmuwan secara menyeluruh dan mengeluarkan gagasan dalam bentuk ilmiah sebagai bukti hasil kerja mereka kepada dunia dan juga untuk berbagi hasil penyelidikan tersebut kepada masyarakat awam, karena mereka merasa bahwa tanggung jawab itu ada dipundaknya.
Ilmuwan memiliki beberapa ciri yang ditunjukkan oleh cara berfikir yang dianut serta dalam perilaku seorang ilmuwan. Mereka memilih bidang keilmuan sebagai profesi. Untuk itu yang bersangkutan harus tunduk dibawah wibawa ilmu. Karena ilmu merupakan alat yang paling mampu dalam mencari dan mengetahui kebenaran. Seorang ilmuwan tampaknya tidak cukup hanya memiliki daya kritis tinggi atau pun pragmatis, kejujuran, jiwa terbuka dan tekad besar dalam mencari atau menunjukkan kebenaran pada akhirnya, netral, tetapi lebih dari semua itu ialah penghayatan terhadap etika serta moral ilmu dimana manusia dan kehidupan itu harus menjadi pilihan juga sekaligus junjungan utama.
Tanggung jawab ilmuwan
                Ilmu menggahasilkan teknologi yang diperagakan masyarakat.penarapan ilmu dimasyarakat juga menjadi kebekarhan bagi masyarakat dan dapat mengubah beradaban bagi manusia, tetapi juga bisa menimbulkan bencana bagi manusia apabila menyalagunakan hasil karya para ilmuwan. Disinilah pemanfaatkan dan teknologi perlu diperhatikan sebaik-baiknya.
       Dihadapkan masalah moral dan akses ilmu dan teknologi yang bersifat merusak, maka para ilmuwan bias dinobatkan sebagai dua golongan pendapat, Ilmu harus bersifat netral terhadap nilai-nilai baik secra ontologis maupun maupun aksiologi. Dalam hal ini ilmuwan hanya bisa menemukan penemuan terserah mau dipakai oleh para pengguna yang bersifat positiv maupun negative ilmu itu sifatnya netral.
1.    Golongan yang pertama ini ingin melanjutkan tradisi kenetralan sebuah ilmu seperti pada waktu era Golileo, dan golongan yang berpendapat netralisasi ilmu hanyalah terbatas pada metafisika keilmuwan, sedangkan penggunaan harus berdasarkan nilai-nilai moral.
2.    Golongan yang kedua ini mendasarkan pendapatnya pada tiga hal yaitu
Ilmu secara factual digunakan secara destraktiv oleh manusia, yang dibuktikan adanya perang dunia yang menggunakan teknologi keilmuwan yaitu terjadi Bom atom. Yang mengahabiskan kota Nagasaki dan hirosima pada saat itu.
Ilmuwan sebagai manusia yang diberi kemampuan merenung dan menggunakan pikirannya untuk bernalar. Kemampuan berpikir dan bernalar itu pula yang membuat kita sebagai manusia menemukan berbagai pengetahuan baru. Pengetahuan baru itu kemudian digunakan untuk mendapatkan manfaat yang sebesar-besarnya dari lingkungan alam yang tersedia di sekitar kita. Oleh karena itu tanggung jawab ilmuwan terhadap masa depan kehidupan manusia diantaranya adalah :
a.       Ilmu adalah berkembang secara pesat dan makin esoteric  sihingga para ilmuwan mengetahui akses-akses yang mungkin terjadi bila terjadi penyalagunaan hasil karya para ilmuwan.
b.      Ilmu telah berkembang sedemikian rupa dimana terdapat kemungkinan bahwa ilmu dapat mengubah manusia dan kemanusiaan yang paling hakiki seperti pada kasus revolusi genetika dan teknik pembuatan social.

Tanggung Jawab Profesional terhadap dirinya sendiri, sesama ilmuwan dan masyarakat, yaitu menjamin kebenaran dan keterandalan pernyataan-pernyataan ilmiah yang dibuatnya secara formal. Agar semua pernyataan ilmiah yang dibuatnya selalu benar dan memberikan tanggapan apabila ia merasa ada pernyataan ada pernyataan ilmiah yang dibuat ilmuwan lain yang tidak benar.
Tanggung Jawab Sosial, yaitu tanggung jawab ilmuwan terhadap masyarakat yang menyangkut asas moral dan etika. Pengalaman dua perang dunia I (terkenal dengan perang kuman) dan II (terkenal dengan bom atom) telah membuktikan bahwa ilmu digunakan untuk tujuan-tujuan yang destruktif.
Sikap Politis Formal Ilmuwan
Jika ilmuwan mempunyai rasa tanggung jawab moral dan sosial yang formal, maka konsekuensinya ilmuwan harus mempunyai sikap politik formal. Sebab sikap politik formal merupakan konsisten dengan asas moral keilmuan serta merupakan pengejawantahan/implementasi dari tanggung jawab sosial dalam mengambil keputusan politis, dimana keputusan ini bersifat mengikat (authorative).
Demi pertanggungan jawaban ilmuwan terhadap masa depan umat manusia, semua dampak negatif sains dan teknologi terus ditangani secara bersama-sama, bukan saja oleh masyarakat ilmuwan dunia, melainkan juga oleh pemerintah semua negara, berlandaskan suatu pandangan bahwa manusia di bumi ini mempunyai tugas untuk mengelolanya dengan sebaik-baiknya. Maka dari itu manusia juga harus melakukan hal-hal sMengadakan kerjasama dengan ilmuwan dan ahli teknologi berbagai negara dalam menerapkan pengetahuannya demi kepentingan seluruh umat manusia. Perlunya pembangunan yang berorientasi masa depan dan wawasan lingkungan.
Ilmu merupakan hasil karya seseorang yang akan dikaji dan dikomunikasikan kepada manusia secara terbuka. Jika hasil karya itu memenuhi syarat sebagai seorang ilmuwan maka ia diterimah dengan terbuka sebagai bagian kumpulan ilmu pengetahuan dan digunakan oleh masyarakat. Dengan kata lain penciptaan ilmu dengan individu tapi secara komunikasi dan penggunaan ilmu karus harus bersifat social. Peranan individulah yang menonjol dalam kemajuan ilmu, yang dapat saja mengubah wajah  peradaban.
Ilplikasi penting dalam tanggung jawab social seoarang ilmuwan , setiap pencarian dan penemuan kebenaran secara ilmiah harus disertai dengan landasan etisyang kukuh. Menurut SuriSumantri  (1984), proses pencarian dan penemuan kebenaran ilmiah yang dilandasi etika, merupakan katagori moral yang menjadi dasar sikap etis seoarang ilmuwan. Ilmuwan bukan berfungsi sebagai analisis materi kebenaran tersebut tetapi harus juga menjadi prototipe moral yang baik.
Tanggung  jawab ilmuwan tidaklah ringan . dpatkah seorang ilmuwan biasa memikul tanggung jawab sedemikian itu, jika batas moral yang berlaku tidak universal . hal etis, yang menjadi landasan utama tegaknya tanggung jawab moral para ilmuwan, memang tidak mempunyai sifat umum dan universal. Maksutnya etika tidak dapat memberikan aturan yang universal yang konkret untuk setiap masa, kebudayaan,dan situasi.
Kaum ilmuwan tidak boleh picik mengganggap ilmu dan teknologi adalah segala-galanya masih banyak sendi-sendi lain yang menyangga peradapan manusia yang baik. Demikian masih dpat terdapat kebenaran-kebenaran lain kebernaran ilmuwan yang melengakapi harkat kemanusiaan yang hakiki  jika kaum ilmuwan konsekuen dengan pandangan hidupnya, baik secara intlektual maupun secara moral maka salah satu penyanggah masyarakat modern ini, ilmu pengetahuan, akan berdiri dengan kukuh. Berdirinya pilar penyangga keilmuan ini merupakan tanggung jawan social kaum ilmuwan ( suryasumantri, 1984)


B. Ilmu bebas nilai atau tidak bebas nilai.
                Rasioamal ilmu terjadi sejak rene Descartes bersikap sepkeptis sebagai metode yang meragukan segala sesuatu, kecuali dirinya yang sedang ragu-ragu. Sikap ini masih berlanjut pada masa aufklarung, suatu era yang merupakan usaha manusia untuk mencapai pemahaman rasional tentang dirinya dan alam.
                Persoalanya ilmu berkembang dengan pesat apakah bebas nilai atau justru tidak bebas nilai. Bebas nilai yang dimaksut Josep Situmorang (1996) bebas nilai artinya tuntutan setiap kegiatan ilmiah atas didasarkan pada hakekat ilmu pengetahuan itu sendiri. Ilmu pengetahuan menolak campur tangan factor eksternal yang tidak secara hakiki menentukan ilmu pengethuan itu sendiri.
                Minimal sebagai tiga factor sebagai indicator bahwa ilmu pengetahuan itu bebas nilai, yaitu
1.       ilmu harus bebas dari factor eksternal seperti factor politis, ideologis, agama, budaya, dan unsure kemasyarakatan lainya .
2.       perlunya kebebasan ilmiah, yang mendorong terjadinya otonomi ilmu pengaetahuan. Kebebasan itu menyangkut kemungkinan untuk menentukan diri sendiri.
3.       Penelitian ilmiah tidak luput dari pertimbangan dari etis (yang sering dituding menghambat kemajuan ilmu), karena nilai etis itu sendiri bersifat universal.

Sosiolog, Weber, bahwa ilmu social menyatakan harus bebas nilai, tetapi ia juga mengatakan ilmu-ilmu social harus menjadi nilai yang relevan. Weber tidak yakin bahwa para ilmuan social melakukan aktivitasnya seperti mengejar atau menulis bidang ilmu social itu, mereka tidak terpengaruh oleh kepentingan tertentu. Nilai-nilai itu harus diimplikasikan kedalam bagian-bagian praktis ilmu social jika praktik itu mengandung tujuan atau rasional. Tanpa keinginan melayani kepentintgan orang, budaya, maka ilmu social tidak beralasan untuk tidak diajarkan. Suatu sikap moral yang sedemikian itu tidak mempunyai hubungan objektivitas ilmiah (Rizal Mutansyir dan Misnal Minir 2001)
Tokoh lain habermas sebagaimana yang ditulis Rizal Mustasir (2001)berpendirian teori sebagai produk ilmiah tidak bebas nilai. Pendirian ini diwarisi Hebermas dari pandangan Huseri yang melihat fakta dari objek alam diperlukan ilmu pengetahuan sebagai kenyataan yang sudah jadi. Fakta atau objek itu sebenarnya sudah tersusun secara sepontan dan primodial dalam pengalaman sehari-hari, dalam libenswelt atau dunia sebagaimana dihayati. Setiap ilmu pengetahuan mengambil dari libenswelt itu sejumlah fakta sebagai fakta yang kemudian diilmiakan berdasarkan kepentingan praktis.
Habermas menegaskan lebih lanjut bahwa ilmu pengatahuan alam terbentuk berdasarkan kepentingan teknis. Ilmu pengatahuan alam tidaklah netral, karena isinya tidak lepas sama sekali dari kepentingan praktis. Ilmu sejarah dan hermeneutika juga ditentukan oleh kepentingan praktis kendati dengan cara yang berbeda. Kegiatan teoritis yangmelibatkan pola subjek selalu mengandung kepentingan tertentu. Kepentingan itu bekerja pada tiga bindang, yaitu pekerjaan. bahasa , dan otoritas. Pekerjaan merupakan kepentingan ilmu sejarah dan hermeneutika, sedangkan otoritas merupakan kepentingan ilmu social.
C. Moralitas Ilmu Pengetahuan.
                Manusia sebagai manipulator dan articulator dalam mengambil manfaat dalam ilmu pengetahuan. Dalam psigkologi, dikenal konsep diri dan freud menyebut sebagai “id”, “ego” dan “super ego” , “id” adalah batgian kepribadian yang dorongan biologi (hawa nafsu dalam agama ) dan hasrat-hasrat yang mengandung dua insting: libido (konstruktif) dan thanatos (destruktif dan agresif). “Ego” penyelaras antara “Id” dan realitas dunia luar. “super ego” adalah polisi kepribadian yang mewakili ideal, hati nurani (jalaludin Rahmat, 1989). Dalam agama ada sisi destruktif manusia, yaitu sisi angkara murka (hawa nafsu).
Ketika manusia memanfaatkan ilmu pengetahuan untuk tujuan praktis, mereka dapat saja hanya mefungsikan “id” nya, seingga dapat dipastikan bahwa manfaat pengetahuan diaarahkan untuk hal-hal yang destruktif. Misalnya dalam pertarungan antara id dan ego, dimana ego kalah sementara superego tidak berfungsi optimal, maka tentu atau juga nafsu angkara murka yang mengendalikan tidak manusia mejatuhkan pilihan dalam memanfaatkan ilmu pengetahuan  amatlah nihil kebaikan yang diperoleh manusia,atau malah mungkin kehancuran. Kisah dua kali perang dunia, kerusakan lingkungan, penipisan lapisan ozon, adalah pilihan “id” dari kepribadian manusia yang mengalahkan “ego” maupun “super ego”nya.
Etika adalah pembahasan mengenai baik, buruk, semestinya, benar, dan salah. Yang paling menonjol tentang baik dan kuwajiban . keduanya bertalian denga hati nurani. Bernaung dibahwa filasafat moral (Herman Soerwardi 1999). Etika merupakan tatanan konsep yang melahirkan kuwajiban itu, dengan argument bahwa sesuatu tidak dijalankan berarti akan mendatangkan bencana atau keburukan bagi manusia. Oleh karena itu, etika adalah seperangkat kewajiban tentang kebaikan yang melaksanakanya tidak ditunjuk.  Exekutornya menjadi jelas ketika sang subjek berhadap opsi baik atau buruk yang baik itulah kuwajiban executor dalam kehidupan ini.



               

Tidak ada komentar:

Posting Komentar